Investasi Fintech: Pengertian, Tips, dan Risiko

Jun 29, 2020

Sumber: poetsandquantsforundergrads.com

Investasi fintech atau peer to peer lending kini menjadi pilihan banyak orang yang ingin menanamkan uangnya dengan harapan mendapat keuntungan yang besar. Memang beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak teknologi internet semakin canggih, Financial Technology (fintech) ikut muncul dan berkembang. Semua transaksi keuangan, mulai dari pembayaran, menabung, juga berinvestasi bisa dilakukan secara digital.

Sejak itu pula sistem peer to peer landing berbasis digital tumbuh pesat karena berhasil meraih perhatian masyarakat. Sistem ini bukan hanya bisa dimanfaatkan oleh pihak yang sedang membutuhkan dana, tapi juga bagi orang-orang yang ingin menginvestasikan uangnya ke dalam bentuk pinjaman. Sistem pinjaman berbasis digital ini diyakini masih akan tumbuh besar sehingga bisa menjadi lahan investasi yang tepat.

Pengertian Investasi Fintech

Sumber: kumparan.com

Investasi fintech adalah sistem penanaman uang atau modal dengan memanfaatkan teknologi finansial khususnya yang berbasis digital. Saat ini orang bisa menginvestasikan uangnya ke dalam bentuk reksa dana, saham, deposito, emas, hingga menjadi pendana di peer to peer lending secara digital. Semua proses investasi tersebut dilakukan dan dikontrol oleh seluruh pihak yang terlibat dengan hanya berbekal smartphonedan internet.

Contohnya dalam peer to peer lending, pihak pengelola atau perantara hanya perlu membuat platform digital yang menjadi tempat pertemuan antara investor atau pendana dengan kreditur atau peminjam dana. Keuntungannya dalam sistem ini, pendana akan mendapat return yang lebih tinggi dari dana yang dipinjamkannya. Sedangkan keuntungan bagi kreditur, syarat dan proses peminjaman jauh lebih mudah dan cepat.

Artikel Lainnya: Kedai Kopi Terkemuka di Indonesia

Tips Berinvestasi di Fintech

Sumber: www.alinea.id

Melihat perkembangan sistem keuangan berbasis digital di Indonesia saat ini, tidak berlebihan memang jika menyebut investasi fintech memiliki masa depan yang cerah. Siapapun yang menginvestasikan uangnya di bidang ini pasti memiliki peluang meraih keuntungan besar. Tapi tentu tidak semudah yang dibayangkan, perlu pengenalan secara rinci dan perencanaan yang matang, sebab investasi fintech di Indonesia atau di negara manapun tetap memiliki risiko yang cukup besar jika tidak berhati-hati.

Ada beberapa tips yang penting untuk diketahui sebelum memutuskan berinvestasi di bidang fintech. Jika tips ini dilakukan dengan baik, kemungkinan risiko terjadi menjadi lebih kecil atau bahkan hilang sama sekali.

  1. Sebarkan Investasi ke Beragam Pinjaman

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan risiko kerugian yang terjadi dalam investasi fintech adalah menyebar investasi. Misalnya saja, jika kamu ingin berinvestasi sebagai pendana, jangan beri seluruh dana yang kamu miliki kepada satu kreditur atau peminjam sebab potensi kerugian menjadi sangat besar. Lebih baik sebarkan dana yang kamu miliki ke beberapa kreditur, dengan begitu, potensi kerugian menjadi lebih kecil dan potensi keuntungan membesar.

  1. Jangan Gunakan Tabungan Untuk Berinvestasi

Memisahkan uang tabungan dan uang investasi menjadi salah satu upaya untuk menekan risiko yang mungkin terjadi dalam fintech. Dalam investasi peer to peer landing misalnya, dana yang telah ditanamkan tidak bisa diambil kembali hingga kreditur mengembalikan atau mencicil pinjamannya.

Artikel Lainnya: Perbedaan Istilah Starup Decacorn Unicorn, dan Hectocorn

Jadi akan sangat berbahaya jika pinjaman yang diberikan berasal dari uang tabungan. Ketimbang mengambil tabungan untuk keperluan lain, lebih baik siapkan pos tabungan baru yang memang dialokasikan untuk berinvestasi di bidang fintech.

  1. Jangan Bertaruh dengan Pendanaan Fintech Lending

Investasi fintech adalah proses penanaman dana untuk mendapat keuntungan yang berlipat ganda, jadi terlalu berisiko jika menjadikan investasi hanya sebagai perjudian. Persiapkan seluruh data yang dibutuhkan sebelum berinvestasi, lakukan riset mendalam, pelajari betul bidang atau pihak yang hendak diberi dana. Dengan begitu, kamu bisa lebih yakin ketika memutuskan untuk menginvestasikan dana ke suatu bidang fintech atau ke kreditur.

  1. Berinvestasilah dengan Keyakinan Penuh

Setelah memahami setiap risiko yang mungkin terjadi dan menyiapkan strategi untuk mengantisipasinya, maka yang terakhir perlu dilakukan adalah meyakinkan diri. Investasi akan jauh lebih baik ketika dijalankan dengan penuh keyakinan sehingga apapun yang terjadi tidak akan menjadi masalah.

Risiko Investasi Fintech atau P2P Lending

Sumber: www.ruangmom.com

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, investasi di bidang fintech khususnya fintech lending memiliki berbagai risiko yang jika tidak dikenali dengan baik bisa menimbulkan kerugian. Tapi sebaliknya, jika risiko dalam dunia investasi dikenali dengan baik, segala strategi yang dibutuhkan untuk mengantisipasinya bisa disiapkan sejak awal.

Artikel Lainnya: 5 Investor dan Entrepreneur Wanita Terkemuka di Indonesia

Selain itu, dengan memahami semua risiko yang mungkin terjadi, seorang investor yang andal justru akan bisa memanfaatkan risiko tersebut menjadi sebuah keuntungan. Berikut ini beberapa risiko yang perlu diperhatikan dan dipelajari dalam fintech lending:

  1. Kualitas Pengelola Masih Terbatas

Bidang P2P lending di Indonesia terbilang masih baru sehingga sulit untuk menentukan pengelola yang memiliki kualitas dengan pengelola yang belum berkualitas. Sedangkan posisi pengelola sangat vital dalam bidang ini. Pihak pengelola lah yang akan mempertemukan calon kreditur dengan calon investor. Alih-alih untung, kamu justru bisa mendapat kerugian besar jika salah dalam memilih pengelola.

  1. Investor Menanggung Sepenuhnya Jika Kreditur Menunggak

Dalam p2p lending, investor harus siap menanggung berbagai risiko, termasuk ketika kreditur menunggak bahkan gagal bayar kredit. Dalam kondisi tersebut, investor harus siap kehilangan seluruh dana yang dipinjamkannya tanpa ganti rugi sepeser pun dari pihak pengelola. Inilah salah satu perbedaan yag paling mencolok dengan menjadi pendana melalui bank.

  1. Investor Menanggung Risiko Operasional

Selain menanggung risiko kreditur gagal bayar pinjaman, investor pun harus dihadapkan dengan risiko operasional dari pihak pengelola. Risiko pertama, pengelola yang tidak bertanggungjawab bisa saja melarikan diri atau menyalahgunakan dana investasi. Risiko kedua, pengelola bisa saja bangkrut. Itu sebabnya, mengecek kredibilitas dan kinerja pengelola menjadi langkah awal yang sangat penting.

  1. Investor Tidak Bisa Menarik Investasi di Tengah Jalan

Risiko lain yang perlu dipertimbangkan baik-baik saat hendak berinvestasi di bidang p2p lending adalah dana yang telah ditanam tidak bisa diambil begitu saja “di tengah jalan”. Uang baru bisa kembali ke tangan investor ketika kreditur berhasil melunasi kreditnya. Itu sebabnya, ketika memutuskan hendak berinvestasi di bidang ini, dana yang ditanamkan harus berasal dari dana khusus yang memang dialokasikan untuk keperluan investasi di bidang peminjaman modal.

Perkembangan investasi fintech di Indonesia, memang cukup menjanjikan. Dalam waktu beberapa tahun saja, terjadi peningkatan jumlah investor yang signifikan. Perbaikan dari sisi sistem, teknis, dan regulasi yang terus berlanjut juga membantu investasi di bidang fintech menjadi lebih baik dan menguntungkan.