5 Pelanggaran Etika Bisnis yang Harus Dihindari

Nov 20, 2022
5 Pelanggaran Etika Bisnis yang Harus Dihindari

Dalam dunia bisnis yang kompetitif, menjaga etika dan integritas adalah kunci keberhasilan jangka panjang. Meskipun terkadang tekanan untuk mencapai keuntungan besar dapat memicu pebisnis untuk melanggar batas-batas etika, tidak ada alasan yang sah untuk mengabaikan prinsip-prinsip yang mengatur perilaku bisnis dengan benar. 

Artikel ini akan membahas lima pelanggaran etika bisnis yang harus dihindari dengan tegas. Dengan mengetahui dan menghindari perilaku yang tidak etis, perusahaan dapat membangun reputasi yang kuat, memenangkan kepercayaan pelanggan, dan menciptakan lingkungan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.

1. Mencuri ide bisnis

Mencuri ide bisnis merupakan salah satu pelanggaran serius yang dilakukan oleh competitor. Tindakan ini berpotensi menimbulkan dampak yang sangat merugikan. Tentu saja, risiko yang ditanggung akan sangat berat jika pihak yang dirugikan mengambil langkah hukum atas perbuatan ini. 

Pelaku yang mencuri ide bisnis dapat dihadapkan pada sanksi pidana sesuai dengan Pasal 17 ayat (1) dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, yang menyatakan bahwa: “Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Rahasia Dagang pihak lain atau melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 atau Pasal 14 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).”

2. Melakukan penipuan

Kejujuran dalam melakukan transaksi merupakan hal yang paling penting dalam usaha atau perdagangan. Dalam sejumlah kasus transaksi daring, terdapat penjual yang tidak transparan terhadap konsumen. 

Mereka tidak jujur mengenai kondisi barang yang ditawarkan dan tidak memberikan hak sepenuhnya kepada konsumen terkait produk yang telah dibeli. Situasi ini tentu saja menimbulkan kekecewaan bagi konsumen. Akibatnya, konsumen dapat mengajukan pengembalian barang atau menyampaikan keluhan yang dapat mempengaruhi peringkat toko (jika toko tersebut beroperasi secara daring).

3. Spamming dan tag sembarangan di postingan media sosial

Selain melakukan spamming dalam bentuk komentar, seringkali pelaku bisnis juga melakukan tindakan men-tag calon konsumen secara sembarangan. Walaupun melakukan tag dapat membuat orang yang Anda tag melihat produk atau jasa yang Anda tawarkan, namun hal ini dapat menimbulkan dampak negatif. 

Calon konsumen mungkin merasa terganggu dan akhirnya menghapus Anda dari daftar teman di media sosial mereka. Tentu saja, tidak ada pengusaha yang ingin kehilangan potensi pelanggan karena praktek semacam ini. 

Jika ingin memastikan postingan dilihat oleh calon konsumen, sebaiknya pertimbangkan untuk menggunakan cara lain seperti fb ads, instagram ads, atau metode lainnya yang lebih efektif daripada men-tag sembarangan.

4. Menggunakan foto produk orang lain

Bagaimana jika produk yang dibeli secara daring ternyata tidak sesuai dengan gambar yang ditampilkan? Tentunya, hal ini akan sangat mengecewakan, bukan? 

Seringkali, masalah semacam ini muncul karena beberapa pelaku bisnis menggunakan foto produk milik orang lain untuk dipajang di media sosial mereka. 

Akibatnya, barang yang diterima oleh pelanggan tentu akan berbeda dari ekspektasi. Untuk menghindari kehilangan pelanggan dengan cepat, disarankan untuk tidak melakukan tindakan semacam ini. 

Perlu diingat bahwa kelangsungan bisnis sangat bergantung pada seberapa banyak pelanggan yang melakukan pembelian berulang. Oleh karena itu, selalu prioritaskan kejujuran dalam berbisnis, terutama dalam hal kualitas produk, jika ingin bisnis Anda terus tumbuh dan berkembang.

5. Melanggar perjanjian

Salah satu jenis pelanggaran yang sering terjadi berkaitan dengan perjanjian bisnis atau Memorandum of Understanding (MOU), yang merupakan perjanjian resmi antara dua pihak yang akan bekerjasama dalam bisnis. Pelanggaran ini terjadi ketika salah satu pihak tidak mematuhi kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya. 

Situasi ini mungkin terjadi jika perjanjian tidak dapat dilanjutkan karena masalah di satu pihak, sehingga pihak tersebut kemudian membuat kesepakatan baru dengan pihak lain. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, mediasi atau musyawarah antar pihak yang berselisih dapat diadakan sebagai solusi.

Dalam menjalankan bisnis, menjaga etika adalah hal yang tidak boleh diabaikan. Pelanggaran-pelanggaran etika bisnis seperti mencuri ide, manipulasi, ketidakjujuran dalam transaksi, diskriminasi, dan pelanggaran konflik kepentingan harus dihindari dengan tegas. 

Etika bisnis yang kuat adalah pondasi untuk membangun kepercayaan dan reputasi yang baik di mata pelanggan, mitra bisnis, dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan menghindari praktik-praktik meragukan ini, perusahaan dapat mencapai kesuksesan jangka panjang yang didukung oleh integritas, tanggung jawab sosial, dan nilai-nilai beretika. 

Selain itu, penerapan etika bisnis yang baik juga akan membawa manfaat jangka panjang bagi kelangsungan bisnis dan keberlanjutan di masa depan.